BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang Masalah
Semakin
tajamnya persaingan didunia industri, maka suatu keharusan bagi perusahaan
untuk lebih meningkatkan efisiensi kegiatan operasinya. Salah satu hal yang
mendukung kelancaran kegiatan operasi pada suatu perusahaan adalah kesiapan
mesin–mesin produksi dalam melaksanakan tugasnya untuk mencapai hal itu
diperlukan adanya suatu sistem perawatan yang baik.
Kegiatan perawatan mempunyai
peranan yang sangat penting, karena selain sebagai pendukung beroperasinya
sistem agar lancar sesuai yang dikehendaki, kegiatan perawatan juga dapat meminimalkan
biaya atau kerugian–kerugian yang ditimbulkan karena adanya kerusakan mesin.
Perawatan dapat dibagi menjadi beberapa macam, tergantung dari dasar yang
dipakai untuk menggolongkannya, tetapi pada dasarnya terdapat dua kegiatan
pokok dalam perawatan yaitu perawatan preventif
yang dimaksud untuk menjaga keadaan peralatan sebelum peralatan itu
rusak dan perawatan korektif yang dimaksud untuk memperbaiki peralatan yang rusak. Suatu mesin
terdiri dari berbagai komponen yang mungkin saja sangat vital, sehingga apabila
komponen tersebut mengalami kerusakan maka akan mendatangkan kerugian yang
sangat besar bagi perusahaan, untuk itu tidak bisa dipungkiri perlunya suatu
perencanaan kegiatan perawatan bagi masing – masing mesin produksi untuk memaksimalkan
sumberdaya yang ada, tetapi keuntungaan yang akan diperoleh perusahaan dengan
lancarnya kegiaatan produksi akan lebih besar .
Dengan melihat kenyataan pentingnya
kegiatan perawatan, penelitian ini mencoba untuk mengemukakan analisis
penentuan waktu kegiatan perawatan preventif yang tepat bagi masing–masing
mesin produksi sesuai keandalannya sehingga dapat meminimalkan biaya perawatan
yang harus dikeluarkan oleh perusahaan.
1.2. Identifikasi
Masalah
Kerusakan mesin merupakan salah
satu hal yang dapat menghambat jalannya proses produksi . apabila pada proses
produksi tersebut digunakan sistem berurutan, maka kerusakan salah satu mesin
pada stasiun kerja dapat mempengaruhi jalannya seluruh proses produksi. oleh
karena itu dibutuhkan suatu rencana perawatan yang tepat bagi setiap mesin
sehingga mesin ini dapat bekerja dengan baik. Perencanaan perawatan yang akan
dilakukan dapat didasari oleh keandalan dari mesin tersebut, dimana
keandalan (realiability) didefinisikan
sebagai peluang atau probability suatu unit atau sistem berfungsi normal jika
digunakan menurut operasi tertentu untuk suatu periode waktu tertentu .
Berdasarkan uraian diatas maka
timbul suatu pertanyaan “Apakah kegiatan yang dilakukan selama ini telah
memenuhi keandalan yang dibutuhkan dari mesin tersebut ? apakah perawatan yang
dilakukan selama ini sudah optimal ?
1.3.
Batasan Masalah
Dalam membahas masalah yang
diuraikan diatas , penyusun memberikan beberapa batasan , yaitu :
1.
Jenis perawatan yang dilakukan adalah perawatan
pencagahan atau preventif.
2.
Aspek teknis dalam pelaksanaan kegiatan perawatan tidak
termasuk dalam pembahasan .
3.
Penelitian dilakukan pada Departemen Weaving pada mesin tenun .
4.
Data historis yang ada dianggap cukup untuk mendukung
penelitian .
1.4
Tujuan penelitian
Tujuan dari penelitian ini
adalah memberikan alternatif dalam menentukan waktu pelaksanaan kegiatan
perawatan preventif, bagi mesin tenun yang dapat meminimalkan biaya perawatan
yang dikeluarkan perusahaan.
1.5 Manfaat penelitian
Manfaat
penelitian ini adalah diperolehnya alternatif kebijakan perawatan bagi mesin
tenun sesuai dengan kebutuhan mesin tersebut dan sehingga perawatan yang
dilakukan dapat optimal .
1.6 Sistematika Penulisan Laporan
Sistematika
penulisan memberikan gambaran yang jelas mengenai penulisan penelitian ini. Adapun sistematika penulisan dalam
penelitian ini antara lain:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi penjelasan mengenai apa yang menjadi latar belakang
dilakukannya penelitian serta permasalahan apa yang akan diteliti dan dibahas.
Selain itu juga diuraikan tujuan penelitian yang akan diperoleh dari hasil
penelitian serta batasan yang digunakan.
BAB II
LANDASAN TEORI
Bab ini berisi teori yang diambil dari beberapa literatur yang berkaitan
dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian. Teori-teori tersebut menjadi
acuan atau pedoman dalam melakukan langkah-langkah penelitian agar benar-benar
dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
BAB III METODE PENELITIAN
Pada
bab ini akan dijelaskan langkah penelitian yang akan digunakan , cara
pengumpulan dan pembahasan data ,
pengolahan data .
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Berisikan
data – data yang dikumpulkan yang selanjutnya akan digunakan dalam proses
pengolahan dan dianalisis sebagai bahan perumusan alernatif kebijakan yang akan
diambil .
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Berisikan
data – data yang dikumpulkan yang selanjutnya akan digunakan dalam proses
pengolahan dan dianalisis sebagai bahan perumusan alernatif kebijakan yang akan
diambil .
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Perawatan
Perawatan (maintenance)
merupakan suatu kegiatan yang diarahkan pada tujuan untuk menjamin kelangsungan
fungsional suatu sistem produksi sehingga dari sistem produksi sehingga dari
sistem itu dapat diharapkan menghasilkan out put sesuai dengan yang dikehendaki.
Sistem perawatan dapat dipandang sebagai bayangan dari sistem produksi, dimana
apabila sistem produksi beroperasi dengan kapasitas yang sangat tinggi maka
akan lebih intensif. Perawatan juga dapat didefinisikan sebagai , suatu
aktivitas untuk memelihara atau menjaga fasilitas atau peralatan pabrik dan
mengadakan perbaikan atau penyesuaian
penggantian yang diperlukan agar terdapat suatu keadaan operasi produksi
yang memuaskan sesuai dengan apa yang direncanakan. Pada dasarnya terdapat dua
prinsip utama dalam sistem perawatan yaitu (Vincent Gasper , 1997):
1.
Menekan (memperpendek) periode kerusakan (break down period) sampai batas
minimum dengan mempertimbangkan aspek ekonomis .
2.
Menghindari kerusakan (break down) tidak terencana , kerusakan tiba –
tiba .
Dalam sistem
perawatan terdapat dua kegiatan pokok yang berkaitan dengan tindakan perawatan
, yaitu :
1.
Perawatan yang bersifat preventif
Perawatan ini dimaksudkan untuk menjaga keadaan
peralatan sebelum peralatan itu menjadi rusak . pada dasarnya yang dilakukan
adalah perawatan yang dilakukan untuk mencegah timbulnya kerusakan - kerusakan yang tak terduga dan menentukan
keadaan yang dapat menyebabkan fasilitas produksi mengalami kerusakan pada
waktu digunakan dalam proses produksi . Dengan demikian semua fasilitas –
fasilitas produksi yang mendapatkan perawatan preventif akan terjamin
kelancaran kerjanya dan selalu diusahakan dalam kondisi yang siap digunakan
untuk setiap proses produksi setiap saat . Hal ini memerlukan suatu rencana dan
jadwal perawatan yang sangat cermat dan rencana yang lebih tepat.
Perawatan
preventif ini sangat penting karena kegunaannya yang sangat efektif didalam
fasilitas – fasilitas produksi yang termasuk dalam golongan “
critical unit “ sedangkan ciri – ciri dari fasilitas produksi yang termasuk
dalam critical unit ialah kerusakan fasilitas atau peralatan
tersebut akan :
·
Membahayakan kesehatan atau keselamatan para pekerja
·
Mempengaruai kualitas produksi yang dihasilkan
·
Menyebabkan kemacetan seluruh proses produksi
·
Harga dari fasilitas tersebut cukup besar dan
mahal
Dalam prakteknya perawatan
preventif yang dilakukan oleh suatu perusahaan dapat dibedakan lagi sebagai
berikut :
a. Perawatan rutin , yaitu aktivitas
pemeliharaan dan perawataan yang dilakukan secara rutin ( setiap hari ) .
Misalnya pembersihan peralatan pelumasan oli , pengecekan isi bahan bakar , dan
lain sebagainya .
b. Perawatan periodic , yaitu aktivitas
pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan secara periodic atau dalam jangka
waktu tertentu , misalnya setiap 100 jam kerja mesin , lalu meningkat setiap500
jam sekali , dan seterusnya . Misalnya
pembongkaran silinder , penyetelan katup – katup , pemasukan dan pembuangan
silindermesin dan sebagainya .
Perawatan preventif akan menguntungkan atau
tidak tergantung pada :
a. Distribusi dari kerusakan
Pada penjadwalan dan pelaksanaan
perawatan preventif harus memperlihatkan jenis distribusi dari kerusakan yang
ada , karena dengan mengetahui jenis distribusi kerusakan dapat disusun suatu
rencana perawatan yang benar – benar tepat sesuai dengan latar belakang mesin
tersebut .
b. Hubungan antara waktu perawatan
prerventif terhadap waktu , perbaikan , hendaknya diantara kedua waktu ini
diadakan keseimbangan dan diusahakan dapat dicapai titik maksimal . jika
ternyata jumlah waktu untuk perawatan preventif lebih lama dari waktu
menyelesaikan kerusakan tiba – tiba , maka tidak ada manfaatnya yang nyata
untuk mengadakan perawatan preventif , lebih baik ditunggu saja sampai terjadi
kerusakan .
Walaupun masih ada suatu
factor lainyang perlu diperhatikan yaitu apabila ternyata jumlah kerugian
akibat rusaknya mesin cukup besar yang
meliputi bianya – biaya :
1. Buruh
menganggur
2 .
produksi terhenti
3 . biaya
penggantian spare part
4 .
Kekecewaan konsumen
maka
walaupun waktu untuk menyelesaikan perawatan preventif sama dengan waktu untuk
menyelesaikan kerusakan , perawatan preventif masih dapat dipertimbangkan untuk
dilaksanakan .
2 . Perawatan
yang bersifat korektif
Perawatan
ini dimaksudkan untuk memperbaiki perawatan yang rusak . Pada dasarnya
aktivitas yang dilakukan adalah pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan
setelah terjadinya suatu kerusakan atau kelainan pada fasilitas atau peralatan
. kegiatan ini sering disebut sebagai kegiatan perbaikan atau reparasi .
Perawatan
korektif dapat juga didefinisikan sebagai perbaikan yang dilakukan karena
adanya kerusakan yang dapat terjadi akibat tidak dilakukanya perawatan
preventif maupun telah dilakukan perawatan preventif tapi sampai pada suatu
waktu tertentu fasilitas dan peralatan tersebut
tetap rusak . jadi dalam hal ini , kegiatan perawatan sifatnya hanya
menunggu sampai terjadi kerusakan , baru kemudian diperbaiki atau dibetulkan
2.2 . Tujuan Perawatan
Secara umum perawatan m,empunyai tujuan – tujuan yang menurut A. S Corder
adalah untuk :
1. Memungkinkan tercapainya mutu
produksi dan kepuasan pelanggan melalui penyesuaian , pelayanan dan
pengoperasian peralatan secara tepat .
2. Memaksimalkan umur kegunaan dari
sistem .
3. Menjaga agar sistem aman dan
mencegah berkembangnya gangguan keamanan
4. Meminimalkan biaya produksi total
yang secara langsung dapat dihubungkan dengan service dan perbaikan
5. Memaksimalkan produksi dari sumber
– sumber sistem yang ada .
6. Meminimalkan frekuensi dan kuatnya
gangguan terhadap proses operasi.
7. Menyiapkan personel , fasilitas dan
metodenya .
8. Agar mampu mengerjakan tugas –tugas
perawatan .
(
A. S Corder , 92 , Hal ; 81 )
.
Pengertian teori keandalan
( Reliability)
Keandalan dalam pengertian yang luas dapat
dikatakan sebagai ukuran prestasi. Atau dengan kata lain “ suatu tingkat
penilaian keberhasilan dari suatu objek yang seperti peralatan , mesin produksi
, kendaraan , komputer , dan lain – lain “ . Konsep keandalan sebenarnya
muncul akibat perkembangan teknologi modern ,pada awalnya ilmuwan mendapat
pengalaman berharga pada saat perang dunia kedua berlangsung . Dimana pada masa
perang tersebut metode keandalan digunakan untuk perawatan mesin khususnya
peralatan perang yang dipakai .
Sedangkan menurut Vincent Gaspersz , Keandalan
didefinisikan sebagai peluang ( Probability ) . suatu unit atau sistem
berfungsi normal jika digunakan menurut kondisi operasi tertentu untuk periode
waktu tertentu .
( Vincent Gaspers , 97 , Hal ; 517 )
Reliability
juga merupakan probabilitas suatu alat melakukan fungsinya dengan cukup memadai
pada periode waktu yang diharapkan dibawah kondisi operasi yang telah
ditentukan .
2.3.1. Model Matematis
Dari Keandalan.
Suatu fungsi matematis telah
dikembangkan untuk menghitung besarnya keandalan mesin . Fungsi matematis ini
dinyatakan sebagai fungsi dari lamanya waktu operasi mesin , untuk menunjukkan
besarnya probabilitas sistem mesin melakukan fungsinya dengan baik pada lamanya
waktu operasi tertentu dan dalam kondisi tertentu pula . Oleh sebab itu
besarnya keandalan ini berhubungan dengan frekuensi terjadinya kerusakan mesin
selama periode tertentu yang ditinjau
Secara teori matematis untuk mengukur keandalan
dilihat beberapa factor yakni :
·
Fungsi keandalan ( Reliability Fanction )
·
Fungsi Distribusi ( Distribution Function
)
·
Fungsi laju kegagalan ( Hazard Function)
2.3.1.1. Fungsi Keandalan.
Secara matematis besarnya keandalan mesin untuk
waktu opersai (t) tertentu didapat dari satu dikurangi dengan probabilitas
terjadinya kerusakan selama waktu operasi t tersebut . Adapun fungsi
keandalannya adalah (Blanchard ,94 , Hal ; 89):
R (t ) = e-

R (t ) =
f (t ) dt R
(t ) = 1- f ( t ) =1-
f (t ) dt
Jika t menuju tak
terhingga , maka R (t ) Menuju nol . F (t ) merupakan distribusi funngsi kerusakan
atau fungsi ketidakhandalan
2.3.1.2 Fungsi Laju Kerusakan ( Hazard Fungtion )
Laju kerusakan ( failure
rate ) merupakan laju dimana kerusakan terjadi pada interval waktu yang
ditetapkan . Laju kerusakan (
) dirumaskan sebagai
berikut (Benjamin S . Blanchard , 94 , Hal ; 89 )
:
dimana : 
= Laju kerusakan
f = jumlah kerusakan yang terjadi
t = Waktu Operasi keseluruhan
Distribusi peluang kontinu
merupakan distribusi yang sering digunakan untuk menganalisis kerusakan mesin .
Pendekatan yang sering digunakan pada periode useful life adalah distribusi
eksponensial dengan parameter
, EXP, (
) . Distribusi
eksponensial digunakan secara luas dalam bidang teknik keandalan sebagai suatu
model tahan hidup suatu komponen atau sistem .Dalam penerapan ini parameter X
dinamakan tingkat kegagalan sistem itu dan mean distribusi itu 1/
dinamakan mean tahan
hidup . Distribusi eksponensial mempunyai densitas sebagai berikut :
F ( t ) =
e-
untuk t
0
Dengan t = waktu
Dan fungsi keandalannya adalah
:
R (t ) = e -
untuk t
0 
Fungsi kerusakan :
h( t ) =
untuk t
0
2.3.1.3. Fungsi Distribusi
Kerusakan .
Beberapa fungsi dapat digunakan
dan untuk menguraikan distribusi kegagalan seperti fungsi kepadatan seperti
fungsi kepadatan kemungkinan f (t ) , fungsi kemungkinan kumulatif , fungsi
laju kegagalan z (t ) .
Umumnya dalam teori keandalan
dipakai variabel acak yang berkesinambungan seperti waktu , jarak , putaran ,
dan temperatur . Bilaa variabel acak adalah diskrit , maka sulit untuk
menentukan fungsi laju kegagalannya .
Fungsi distribusi yang sering
digunakan untuk menganalisa kerusakan kegagalan karena fatigue dari material
serta umur suatu alat antara lain :
1.
Distribusi Normal .
Distribusi normal dikenal dengan bentuk
seperti genta . Distribusi ini simetris terhadap nilai rata – rata ( mean
value ) .
a. Fungsi
Keandalan :
f (t ) =
.
b . Fungsi Laju
Kerusakan
h ( t
) = 
2 . Distribusi Exponensial
Distribusi exponensial mempunyai tingkat kerusakan yang tetap terhadap
waktu . Distribusi ini mempunyai sifat
matematika yang menguntungkan , tetapi sangat terbatas penggunaannya karena
bila suatu sistem mempunyai umur dengan distribusi eksponensial maka penggunaan
sebelumnya tidak akan berpengaruh pada umur dimasa yang akan datang . Dengan
kata lain bila suatu sistem belum gagal dalam waktu t , distribusi
kemungkinannya dari umurnya yang akan datang T – t adalah sama dengan bila
sistem benar – benar baru dan baru dipakai pada waktu t . Suatu sistem telah
beroperasi selama t tahun waktu . kemungkinan sistem akan tetap survive pada
waktu ( t – a ) adalah :
a. Fungsi
Keandalannya
R ( t ) = exp ( -
t )
b.Fungsi Laju Kerusakan :
F ( t )
R ( t )
Dimana
rata – rata waktu
antar kerusakan
3 . Distribusi Weibull
Distribusi
ini digunakan untuk menguraikan kerusakan mesin atau peralatan karena
fatigue . Distribusi ini bersifat mempunyai tingkat kerusakan yang
bertambah bila
>1 dan tingkat kerusakan menurun bila
<1 serta bersifat tetap bila
= 1
a.
Fungsi Keandalan
R ( t ) = exp - ( t /
) 
b.Fungsi Laju Kerusakan
h(t ) = f ( t ) / R (t ) =
/ 0 ( t / 0 )
- 1
Dimana t = waktu kerusakan
4 Distribusi Gamma
Distribusi gamma
sudah dikenal luas dan sering digunakan untuk memecahkan banyak masalah dalam
bidang rekayasa .
a. Fungsi
keandalannya :
R ( t ) =
( t /
)
exp ( -t /
) dt
( t /
b.Fungsi Laju Kerusakan
h (t ) = 
2.4. Kurva Laju Kerusakan
Pada dasarnya laju kerusakan (
failure rate ) akan berubah sepanjang umur dari populasi sistem atau
komponen . Dengan demikian laju kerusakan akan tergantung pada perubahan waktu
. Laju kerusakan suatu komponen akan mengikuti pola dasar seperti terlihat
dalam kurva laju kerusakan atau yang lrbih dikenal kurva kamar mandi (
Bathup hazard rate curve ) , dan dari kurva ini masa pakai suatu produk
dapat dibagi menjadi 3 periode waktu atau phasa seperti pada gambar dibawah ini
:

Burn in region Useful in region Wear – out region
A B C Waktu
Gambar 2 – 1 Kurva
laju kegagalan ( Vincent Gasper , 94 , Hal 518. )
Pada kurva laju kegagalan
terdapat tiga periode yang memperlihatkan
karakteristik produk selama umur gunanya ( life cycle ) .
Pada fase A disebut “ Periode
infant mortality” merupakan interval waktu saat awal yang menjelaskan bahwa
alat – alat yang baru diproduksi oleh pabrik apabila digunakan pada mulanya
untuk suatu masa tertentu memiliki tingkat kerusakan tertentu ( tidak nol )
.Terdapat beberapa alasan munculnya kegagalan operasi suatu komponen pada
periode ini :
a.
Pengendalian mutu di pabrik yang kurang baik .
b.
Metode pemrosesan di pabrik yang kurang baik
c.
Penggunaan material dan pekerja yang berada di bawah
standar .
d.
Start up dan instalasi yang salah .
e.
Kesukaran – kesukaran dalam perakitan .
f.
Kesalahan – kesalahan manusia dan proses .
Pada fase B disebut sebagai “ useful life period”
, yang merupakan suatu periode masa pakai alat dengan laju kegagalan komponen
yang bersifat konstans . Terdapat beberapa alasan munculnya kerusakan dalam
periode ini :
a.
Kerusakan – kerusakan yang tidak dapat dijelaskan (
tidak menentu )
b.
Kesalahan manusia , melampaui masa pakai , kerusakan
alamiah
c.
Kerusakan yang tidak dapat dihindarkan , dalam hal ini
perawatan preventif menjadi tidak bermanfaat .
d.
Factor – factor keamanan yang rendah .
Pada fase C disebut sebagai “
wear out periode”, dimana laju kegagalan komponen pada periode ini
cenderung meningkat . Beberapa alasan yang mendorong timbulnya kerusakan pada
periode ini antara lain :
a.
Perawatan yang tidak tepat
b.
Pemakaian yang salah karena gesekan.
c.
Pemakaian karena komponen telah disimpan lama .
d.
Praktek over houl yang salah
e.
Berkarat , serta kerusakan yang timbul secara perlahan
– lahan .
f.
Telah dirancang masa pakai produk yang pendek .
2.5. Pengujian
Kecocokan Data
2.5.1. Pengujian Chi –
Square ( Goodness of Fit ) .
Pengujian kecocokan bentuk
distribusi kerusakan mesin merupakan suatu hal yang sangat penting dalam
analisis keandalan , karena dengan pengujian tersebut dapat ditentukan suatu
teknik yang paling tepat dalam perhitungan keandalan . Uji kecocokan atau “
goodness of fit test “ dapat digunakan untuk menguji hipotesis atau
asumsi kita terhadap pola distribusi yang ada . Adapun langkah – langkah dalam
uji kecocokan adalah sebagai berikut :
1.
Menentukan hipotesa nol (Ho ) dan alternatif (Hi )
.
Ho merupakan hipotesa nilai
parameter dugaan yang dibandingkan dengan hasil perhitungaan dari sampel . Ho
ditolak ditolak hanya jika hasil perhitungan dari sampel tidak mungkin memiliki kebenaran terhadap hipotesis yang
ditentukan terjadi . Hi diterima hanya jika Ho ditolak .
2.
Menentukan tingkat signifikan yang digunakan
Tingkat signifikan adalah
standart statistik yang digunakan untuk menolak Ho .
3.
Uji Statistik .
Pengujian statistiknya adalah :
Xo2 = 
Dimana
Fi = frekuensi pengamatan dalam interval kelas ke – i
Ei = frekuensi harapan dalam interval kelas ke – I
4.
Menentukan derajat kebebasan ( df = v )
Jumlah derajat kebebasan V
ditentukan oleh :
a. V = K – 1 , jika frekuensi yang diharapkan
dapat dihitung tanpa harus
menduga parameter populasi dari statistik sampel .
b.
V = K – 1 – m , jika frekuensi yang diharapkan dapat dihitung hanya
dengan menduga m parameter populasi dari statistik sampel .
Dimana :
K = jumlah kategori data sampel
m = jumlah nilai – nilai parameter yang
diestimasi
5.
Menentukan nilai kritis atau nilai – nilai uji
statistik .
X2
tabel = X2 (
, N )
Menghitung nilai hitung dari
uji statistik .
2
X2 = 
6 . Membuat keputusan .
Ho ditolak jika X2 hitung
X2 tabel.
2.6. Maintainbility dan availability
2.6.1. Maintainbility
Maintainbility adalah
probabilitas mesin yang mengalami kerusakan dapat dioperasikan kembali dalam
suatu selang dwon time tertentu . untuk mengoptimumkan maintainabilitas sistem
ada dua factor yang perlu diperhatikan yaitu model perawatan ( maintenance
model ) dan perancangan untuk
mendapatkan tingkat maintainabilitas tertentu .
Jika f (t ) adalah fungsi
density probabilitas terhadap waktu yang dibutuhkan untuk mempengaruhi tindakan
( repair , overhaul , atau replacement ) . maka maintainability dari suatu
peralatan dapat didefinisikan sebagai berikut :
Perhitungan –perhitungan dalam
maintainability antara lain adalah :
1. Mean
Time Between Maintenance ( MTBM ) .
Waktu rata – rata diantara
perawatan yaitu :
Meliputi kebutuhan perawatan
preventif ( terjadwal ) dan perawatan korektif ( tidak terjadwal )
MTBM = 
fpt = 
Dimana :
2. Waktu rata – rata perawatan aktif (
M )
M
= MTBM (
x Mct + f pt x Mpt )
Dimana :
Mct
= Waktu rata-rata perawatan korektif
Mpt
= Waktu rata – rata perawatan
preventif
3. Rata – rata Dwon Time ( MDT )
MDT
= M + LDT + ADT
Dimana
:
LDT
= logistic delay time
ADT
= administrative delay time
2.6.2. Ketersediaan (Availability ) dan
Kesiapan Sistem Beroperasi ( Operational
Readiness ).
Ketersediaan ( availability )
suatu sistem atau peralatan adalah kemampuan sistem atau peralatan tersebut
dapat beroperasi secara memuaskan pada saat tepat pada waktunya dan pada
keadaan yang telah ditentukan .
Waktu total dalam perhitungan
ketersediaan didasarkan pada waktu operasi , waktu untuk perbaikan waktu
administrasi dan logistik . Status system didasarkan pada horizon waktu.
Secara definisi ada 3 macam
ketersediaan ( availability ) yaitu :
1)
Inheren Availability ( Ai )
Ke mungkinan suatu system atau
peralatan dalam keadaan ideal ( kesiapan tersedianya peralatan , suku cadang ,
teknisi ) yang beroperasi secara memuaskan pada tiap waktu yang telah
ditentukan . Hal ini tidak termasuk waktu kegiatan pemeliharaan pencegahan ,
waktu administrasi dan logistik .
Inheren availability dapat dinyatakan dalam
:
Ai = 
Dimana :
MTBF = Mean Time Between Failure
Mct =
Mean Time Corective Maintenance Time
2)
Achieved Availability (Aa )
Secara definisi sama dengan inheren
availability , hanya Aa waktu kegiatan pencegahan dimasukkan sehingga achieved
availability dinyatakan dalam :
Aa = 
Dimana :
M =
Waktu rata – rata perawatan aktif
3)
Operasional Availability ( Ao )
Probabilitas suatu sistem atau peralatan
dalam keadaan sebenarnya ( actual ) akan beroperasi secara memuaskan .
Operasional availability dinyatakan dalam :
Ao =
Dimana :
MDT = Mean Maintenance Dwon Time
Tidak ada komentar:
Posting Komentar